Deskripsi
Sepuluh tahun menjadi janda mati membuat Kumala pontang-panting menjaga hidupnya sendiri. Maka, di suatu sore November, ia mendatangi Pak Cokro Wuluh—juragan perkebunan jagung kaya raya sekaligus sahabat karib almarhum suaminya—memohon pekerjaan bagi anak sulungnya, Guntur. Namun, di balik tatapan mata kelabu yang menusuk dan kharisma yang memikat, Pak Cokro menyimpan rahasia gelap yang membuat bulu kuduk meremang: ia dikenal gemar memetik daun-daun muda. Bagi pria itu, seorang perempuan yang baru saja mencicipi datang bulan pertamanya dinilai sudah cukup matang untuk dijadikannya istri simpanan.
Kumala sengaja meninggalkan putrinya di rumah, memagari rapat-rapat dari incaran pria itu. Tetapi ia tidak menyangka—bukan putrinya yang menjadi sasaran. Pak Cokro menolak Guntur yang tambun dan pemalas, lalu memutar perhatiannya pada Dhamar, putra bungsu Kumala yang berusia tujuh belas tahun, berpostur ramping, berparas menawan—mewarisi kerupawanan sang ibu. Dengan senyum penuh arti dan suara merdu yang menggetarkan dada, Pak Cokro menawarkan beasiswa: sebuah pintu menuju masa depan yang lebih cerah, atau jebakan manis yang terselubung di balik ketulusan palsu.
Ketika seorang ibu terjepit antara harapan dan ketakuan, ketika seorang anak muda terbuai tawaran yang terlampau muluk untuk ditolak—mungkinkah Dhamar benar-benar menjadi “anak pilihan”, atau justru anak yang dipilih untuk dimangsa di bawah naungan seorang juragan yang haus akan darah muda?











Review
Belum ada yang kasih review.