Deskripsi
Penulis: Mr. Joy
Tebal: 140 halaman
Setiap subuh, Endra Dantara menyandang karung beras lima puluh kilogram di gudang Pasar Induk—rutin yang membuat kuli panggul lainnya terheran, sebab di balik debu dan kaus kusamnya, tersimpan tubuh kekar berkulit putih hasil kedisiplinan push-up, sit-up, dan pull-up di pipa besi tua dekat kosnya. Latihan itu bukan hobi, melainkan obsesi yang ia pelihara sejak SMA demi satu impian: mengenakan seragam loreng kebanggaan negara. Namun, batas usia dua puluh dua tahun menutup pintu kanvas itu selamanya, dan mimpi pecah berserakan di lantai kos tiga kali tiga meter yang lembap. Pada hari ia menyerah, sebuah selebaran di tiang listrik menawarkan pintu lain: BUJP, lembaga keamanan swasta dengan gaji berkali lipat di atas upah buruh panggul. Di ruang wawancara ber-AC, Pak Slamet—pria paruh baya berperut buncit dalam kaus batik—menatap postur Endra. Matanya berlama-lama pada bidang dada dan lengan atas, jemarinya terlalu lembek saat menyentuh kerah kausnya, dan suaranya mengalun madu ketika berbisik: “Kamu istimewa, Endra. Aku bisa membantumu—tanpa biaya, tanpa antre—dengan satu syarat: kamu harus menurut.”
Satu pesan singkat tengah malam memanggilnya ke ruangan nomor tiga, jam lima sore. Pintu kelabu dikunci dari dalam. Lampu remang. Pendingin udara mencekam hingga merinding bulu kuduknya. Kemeja Pak Slamet setengah terbuka, kerahnya menganga, dan suaranya kini lebih pelan—lebih basah—ketika ia mengumbar janji: semua biaya dihapuskan, semua antre bisa dipangkas, asalkan Endra mau membuktikan keseriusannya lewat “tes kebugaran” yang sebenarnya. Di kepala Endra, gambaran ayahnya yang menggeliat sakit, adiknya yang menunggak SPP tiga bulan, dan dapur ibu yang kosong sejak minggu lalu, berputar tanpa henti. Lalu Pak Slamet berdiri, menghampiri, dan suaranya menurun menjadi bisikan yang membuat napas Endra tercekat: “Mulai dengan menanggalkan bajumu.”
Ketika satu-satunya pintu menuju masa depan dikunci dari dalam dan syarat tak tertulis pun diucapkan pelan ke telinga, pertanyaan tinggal satu: apakah kamu—di posisi Endra, dengan ayah yang menggeliat sakit, adik yang menunggak SPP, dan ibu yang dapurnya kosong—akan berani berbisik “tidak,” atau tubuhmu sendiri yang akan lebih dulu menyerah demi satu mimpi yang sudah terlalu mahal untuk dikubur?










Review
Belum ada yang kasih review.