Deskripsi
Penulis: Ree
Tebal: 41 halaman
Rudi, tukang kebun berusia 42 tahun dengan tubuh montok dan pantat semok, hanya ingin bekerja tenang di rumah mewah majikannya. Lima tahun menduda, ia mengandalkan gaji bulanan dan kamar kecil di belakang rumah untuk bertahan hidup. Namun kedatangan Gion—anak majikan yang baru pulang dari Surabaya—menghancurkan segalanya. Suatu pagi di taman belakang, tanpa peringatan, Gion merudapaksa Rudi dari belakang, merobek celananya, dan menancapkan kontol tebalnya ke lubang pantat Rudi yang masih rapat. Darah menetes. Rudi menjerit tanpa suara. Dan yang paling mengerikan: tubuh Rudi mengkhianatinya—kontolnya justru berdiri tegak dan menyembur tanpa disentuh.
Sejak hari itu, Rudi terjebak dalam siklus penyiksaan yang tak berujung. Gion memergokinya di gudang perkakas, mengunci pintu, memaksa Rudi menghisap kontolnya hingga tersedak, lalu menyetubuhi pantatnya lagi di atas tumpukan karung pupuk. Setiap kali selesai, ancaman yang sama diulang: satu kata kepada siapa pun, dan jasad montok Rudi akan ditarik ke selokan belakang kompleks. Rudi bekerja seharian dengan lubang yang memar dan terasa robek, berpura-pura tidak terjadi apa-apa di depan keluarga majikan—sementara Gion duduk santai di teras, tersenyum miring, sudah menandai mangsanya untuk hari berikutnya.
Di rumah mewah ini, Rudi bukan lagi pekerja—ia adalah properti. Tubuh pulennya menjadi mainan kasar seorang pemuda yang tak kenal ampun. Luka fisik mungkin bisa sembuh, tapi bagaimana dengan kehancuran di kepala Rudi saat ia mulai meragukan tubuhnya sendiri? Akankah Rudi terus menelan ludah dan menerima nasibnya sebagai gadun semok di rumah orang lain, atau ada titik di mana seorang tukang kebun pendek ini akhirnya memberontak sebelum benar-benar hancur?










Review
Belum ada yang kasih review.