Deskripsi
Penulis: Darien Atmajaya
Tebal: 447 halaman
Di balik kemeja batik megamendung yang ia kenakan sebagai tameng, Andika Prasetya menyembunyikan satu kelemahan yang tak pernah ia akui: guru matematika honorer berusia dua puluh empat tahun dengan postur mungil seratus lima puluh delapan sentimeter itu terjebak perasaan pada muridnya sendiri. Raditya—delapan belas tahun, bertubuh kekar, suara bariton yang rendah mendayu mesra. Di balik pintu kamar yang dikunci dari dalam, dengan jarak kursi belajar yang sengaja dipersempit hingga paha mereka bersentuhan di kolong meja, seluruh pertahanan Andika terbongkar tanpa perlawanan. Setiap embusan napas hangat yang dihembuskan Raditya ke arah telinganya, setiap tatapan cokelat gelap yang menelanjangi bibirnya saat ia menjelaskan rumus, dan setiap ujung jari kasar yang merayap dari atas meja hingga menyentuh nadi pergelangan tangannya, sukses meruntuhkan seorang guru tanpa perlu sekali pun menyentuh bagian tubuh mana pun yang seharusnya tetap suci.
Namun, hubungan yang lahir di balik ruang-ruang tersembunyi itu tak pernah kebal dari risiko. Mata-mata di sekitar mereka mulai menyadari ada yang berubah: Andika kerap terlambat masuk kelas, fokus mengajarnya anjlok, dan sebuah telepon dari wali murid yang menuduhnya lalai menjadi pukulan pertama yang membuka mata keduanya bahwa karier Andika sebagai pengajar sedang di ujung tanduk. Dengan hati yang remuk, ia menjatuhkan keputusan yang menyiksa—menarik jarak hingga Raditya lulus. Empat minggu. Tanpa lagi obrolan pagi di koridor, tanpa lagi tatapan sembunyi-sembunyi di tengah pelajaran, hanya kecanggungan yang menempel kaku di setiap sudut lingkungan sekolah di antara seorang guru dan muridnya yang dulu terbiasa berbagi napas dan canda.
Dan kini, di koridor yang sama, mereka hanya berpapasan—berjarak beberapa langkah, lalu menunduk seolah saling menjadi orang asing. Pertanyaan yang menggantung di udara tak pernah terucap: apakah mereka benar-benar mampu bertahan menjalani hari-hari dalam diam itu hingga kelulusan tiba? Lalu, setelah ijazah sudah berada di tangan Raditya dan status guru-murid resmi lenyap—apakah yang tersisa di antara mereka masih bernama cinta, atau hanya kenangan tentang godaan yang seharusnya tak pernah terjadi?










Review
Belum ada yang kasih review.